Sabtu, 24 Agustus 2013

PERSAINGAN INDUSTRI PERKAYUAN




PERSAINGAN INDUSTRI PERKAYUAN


Bisnis dan persaingan bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, dimana ada bisnis disitu terdapat persaingan. Persaingan merupakan fakta yang terjadi saat ini dimana setiap perusahaan berusaha lebih unggul dibandingkan para pesaingnya. Persaingan menuntut setiap perusahaan untuk mempertahankan keunggulan bersaing.
Pada era globalisasi saat ini, persaingan antar bisnis semakin ketat dan tajam sehingga setiap unit bisnis yang menginginkan tetap eksis dan menang dalam persaingan harus memiliki keunggulan kompetitif berkesinambungan (sustainable competitive advantage) tertentu dan bersifat valuable, rare, unimmitable dan without equivalent substitute dibandingkan pesaingnya (Barney, 1991:1).
Keunggulan tersebut berkaitan dengan kemampuan perusahaan dalam beberapa hal, yaitu : inovasi produk, penggunaan teknologi dan desain organisasi utility sumber daya manusia.  Pengelolaan 3 hal tersebut akan menjadi tuntutan yang harus dipenuhi di masa yang akan datang.
Menurut Porter dalam kondisi keterbatasan sumberdaya, dunia bisnis mengalami turbulensi dan persaingan yang mengarah pada hypercompetition, hanya perusahaan yang tangguh yaitu perusahaan yang mempunyai keunggulan bersaing (competitive advantage) yang dapat bertahan dan memenangkan persaingan. Keunggulan bersaing ini diartikan sebagai kemampuan perusahaan dalam menyelenggarakan satu atau lebih kegiatan yang pesaing tidak dapat atau tidak mampu menyamai (Porter, 1999:14)
Hipotesa Henderson (1983) dalam Ferdinand (2000a) menggambarkan :
Persaingan sebagai sebuah sistem hubungan dimana perusahaan hanya dapat eksis dan bertahan bila mereka mempunyai keunggulan yang unik dibandingkan lawan.  Jika tidak memiliki maka pesaing dapat menggeser posisi strategiknya dan karena itu semakin mirip profil strategik sebuah perusahaan dibandingkan pesaing terdekatnya maka terjadi persaingan pasar semakin keras.
Dalam Lingkungan kompetitif yang global, intens, dan dinamik, pengembangan produk dan proses baru menjadi titik sentral (Wheelwright & Clark, 1991) dalam kompetensi bisnis. Kemampuan untuk lebih cepat meluncurkan produk dan proses baru ke pasar, lebih efisien, dan adaptif terhadap kebutuhan pelanggan dan mencoba melampaui ekspektasi pelanggannya sangat dibutuhkan untuk menciptakan sisi kompetensi yang signifikan bagi perusahaan. Untuk itu perusahaan dituntut lebih siap dan sigap dalam mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi. Dalam lingkungan yang turbulen, penuh tekanan, dan haus dengan inovasi, pengembangan produk dan proses baru menjadi syarat untuk dapat dikenal dalam medan persaingan bisnis. Bersamaan dengan itu, tekanan globalisasi telah mulai berdampak pada praktek pengembangan produk baru yang melintasi jangkauan industri yang luas (Eppinger & Chitkara, 2006 ).
Peranan industri perkayuan yang sangat penting terhadap perolehan devisa dan pembangunan ekonomi serta perkembangannya yang pesat selama ini telah menimbulkan persoalan-persoalan yang kompleks bagi pemerintah dan rakyat Indonesia. Berkurangnya pasokan bahan baku kayu dari hutan alam, rendahnya realisasi pembangunan hutan tanaman industri (HTI) untuk menghasilkan kayu pulp dan kayu pertukangan, serta inefisiensi produksi telah menyebabkan produksi hasil hutan menurun sehingga banyak perusahaan pengolahan kayu yang rugi dan terlilit hutang. Beberapa perusahaan pengolahan kayu bahkan diduga mengkonsumsi kayu ilegal dari hutan alam dalam proses produksinya. Akibatnya, bukan saja pasokan kayu bulat untuk industri perkayuan di masa depan terancam, tapi juga kerusakan lingkungan seperti deforestasi dan degradasi hutan semakin parah.
Hal ini menunjukkan kelemahan Indonesia sebagai negara tropis yang belum dapat memanfaatkan keunggulan komparatif yang dimilikinya, khususnya dalam memanfaatkan produktivitas hutan tanaman yang jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara bukan tropis. Selain itu, masalah lingkungan dan konflik akibat kelangkaan sumberdaya hutan pun meningkat, diiringi dengan menurunnya manfaat jasa lingkungan hutan serta keanekaragaman hayati. Di pihak lain, para penebang liar dan konsumen kayu ilegal terus menikmati keuntungan yang sangat menggiurkan, sementara masyarakat luas harus menanggung dampak negatif yang luarbiasa akibat kerusakan lingkungan yang terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar